Saturday, February 12, 2011

Nokia Akui Sedang Krisis

Meski masih menjadi vendor ponsel nomor satu dunia, Nokia disebut-sebut tengah sempoyongan melawan rival beratnya. Jika biasanya pendapat itu dikatakan pihak luar, kini bos Nokia sendiri mengakuinya. Ia menyatakan Nokia berada dalam krisis. Bukan krisis keuangan tapi krisis karena ditekan para pesaingnya.

CEO Nokia, Stephen Elop, mendeskripsikan bahwa perusahaannya berdiri dalam sebuah 'platform yang terbakar', dikepung oleh para kompetitor inovatif yang menggerogoti pangsa pasarnya. Secara khusus, Elop menyebut Nokia digerus oleh Android dan Apple iPhone.

Elop menyatakan hal tersebut pada para staff Nokia dalam catatan internal yang bocor ke publik. Seperti dikutip dari BBC, Kamis (10/2/2011), catatan yang pertama kali didapat situs teknologi Engadget itu adalah asli.

"iPhone pertama dikapalkan pada tahun 2007 dan kita masih tidak punya sebuah produk yang mendekatinya. Android datang ke arena baru dua tahun yang lalu, dan minggu ini mereka mengambil posisi kepemimpinan kita dalam hal volume smartphone. Tidak bisa dipercaya," tulis Elop.

Selain Android dan iPhone, Elop juga menyinggung soal ponsel buatan pabrikan China yang telah mengancam kedigdayaan Nokia di kelas bawah. "Mereka cepat, murah dan menantang kita," tulisnya.

Pangsa pasar Nokia sendiri terus menurun meski masih memuncaki posisi pabrikan ponsel terbesar sejagat. Menurut data IDC, pangsa pasar Nokia anjlok menjadi 28% di akhir tahun 2010 dari yang sebelumnya 38% pada tahun 2009.

Menanggapi bocornya memo tersebut, Ben Wood selaku analis di CCS Insight menyatakan bahwa Elop memahami secara dalam mengenai masalah yang dihadapi Nokia. Elop tidak memandang remeh perbaikan yang mesti dilakukan.

Menghadapi situasi yang makin sulit, Nokia diprediksi mengubah strateginya dan mempertimbangkan pemakaian OS selain Symbian. Vendor asal Finlandia ini dirumorkan segera mengumumkan persekutuannnya dengan OS Windows Phone 7.

Sumber:
 ( fyk / rou ) 

No comments:

Post a Comment

LinkWithin

 
coompax-digital magazine